Langsung ke konten utama

Doing Something That Didn't Give Direct Impact to You Wasn't Waste of Time


Halo, warga lokal dan masyarakat sekitar! Alhamdulillah aku masih diberikan kesempatan buat menulis di blog yang sudah lama tidak terisi ini. Alasan utama kenapa ngga rutin menulis lagi sih karena sendirinya lebih suka mengungkapkan sesuatu dengan poin-poin, instead writing it up as an article, karena lebih simpel dan enak dibaca aja, gitu. Ini aja balik nulis karena sedang mengikuti sebuah kompetisi, hehe. Yah, semoga dengan mengikuti kompetisi ini, aku semakin rajin menulis karena menulis itu merapikan kenangan, kalo kata temenku.

Aku tuh orangnya sangaat malesan. Apabila sesuatu tuh ngga memberikan keuntungan secara langsung ke aku secara pribadi, biasanya aku males untuk melakukannya. Membuang sampah, laundry baju padahal tempat cucinya cuman sebelah kosan, merapikan dokumen yang berserakan just for sake suka aja gitu keliatan kayak orang sibuk, dan banyak hal lainnya. Aku biasanya hanya akan semangat melakukan sesuatu apabila sesuatu tersebut memberikan direct impact ke aku. Applying scholarship, ikutan conference, brainstorming masalah lomb atau PKM, dan hal-hal yang aku rasa bakalan memberikan keuntungan secara langsung kepada aku secara pribadi. Nah, itu, baru aku semangat.

What I realize is ternyata kebiasaan kayak gitu tuh sebenarnya ngga bagus. Satu kemalasan akan menuntun ke kemalasan yang lainnya, and in the end of the day, kamu bakalan sadar bahwa hari kamu terbuang percuma karena kemalasan itu. I have those days ketika Kota Solo ini sedang panas-panasnya dan itu membuat aku mager ke warung buat beli shampo. Hanya karena kemalasan itu, akhirnya aku nggak jadi mandi. Karena aku nggak jadi mandi, akhirnya aku nggak jadi bersihin kamar mandi kosan. Karena aku nggak jadi bersihin kamar mandi, aku nggak jadi mencuci baju. Karena aku nggak jadi mencuci baju, akhirnya aku nggak bisa berpindah mengerjakan hal yang lain, karena merasa sudah skipping too much thing to do makanya mending sekalian semuanya dikerjain besok aja.

Dampak secara langsungnya sih nggak ada. Cuman, dampak jangka panjangnya ialah kamar mandiku kotor dan ngga nyaman untuk digunakan. Baju kotor yang menumpu akhirnya membuat aku nggak punya stok baju sehingga ngga bisa menghadiri agenda yang mengharuskan keluar rumah. Karena hari itu akhirnya aku nggak mandi, akhirnya tubuhku bentol-bentol, karena sebenarnya kulitku sensitif.

Dari situlah aku sadar, bahwa sesuatu yang tidak memberikan keuntungan secara langsung tuh bukan berarti tidak penting. Memang dampaknya tidak bisa langsung kita rasakan sekarang, but eventually we will face it. Entah berupa kamar mandi yang kotor, baju kotor yang menumpuk, atau kulit yang iritasi.

Maka dari itu, aku belajar untuk tidak menyelepekan sesuatu, sekalipun sesuatu itu merupakan hal yang sederhana. Menyapu lantai, mencuci pakaian, membuang sampah, merapikan dokumen, menata kamar, menjemur handuk dengan benar, langsung mencuci piring kotor setelah digunakan, dan hal lain yang sebenarnya sederhana tapi susah dilakukan. Aku berusaha mengubah pola pikir mengenai hal yang penting dan tidak penting, karena sekalipun itu hal yang nggak penting, those thing still affect our lives.

Apa sih hubungannya dalam hal pekerjaan? Dari sinilah akan terbentuk kebiasaan untuk tidak menunda pekerjaan. Dengan tidak menunda sesuatu, kita memiliki kesempatan buat melihat lagi hasil kerja kita, memperbaiki hal-hal yang dirasa kurang, sehingga kita bisa memperoleh hasil kerja yang optimal. Kaget juga saya ketika ternyata hal yang kecil ini bisa memberikan dampak yang besar, termasuk dalam pekerjaan kita.

Yah, seperti yang kita tahu, jumlah angkatan kerja semakin hari semakin banyak, sedangkan lowongan yang tersedia lumayan terbatas. Beberapa hari yang lalu, aku baru aja melihat post dari Glints, sebuah akun yang concern tentang dunia kerja. Melihat gambar ini, https://www.instagram.com/p/BmNd2n-AmRg/?taken-by=glints, aku agak tertohok. Aku merasa masih belum siap untuk menghadapi persaingan mencari kerja. Secara mental masih belum siap, pun kebiasaan yang aku miliki masih harus diperbaiki lagi.

Gimana sih caranya agar bisa stand out dari orang lain? Caranya ialah memiliki hal yang tidak dimiliki orang lain. Memiliki kebiasaan yang lebih baik dari kandidat lain tentu salah satunya. Apabila kamu sudah terbiasa tidak menunda pekerjaan, disiplin, dan rajin, kamu akan bisa stand out di antara orang lain yang tidak memiliki kebiasaan demikian. You got the spot.

Udah, sih. Sekian dulu pelajaran kehidupan yang aku dapatkan. Semoga bisa dipetik hikmah dan manfaatnya. See you!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Mengikuti Seleksi XL Future Leaders Batch 7

A Lo Ha! Sekarang aku mau sharing pengalaman ikutan seleksi XL Future Leaders batch 7, nih. Programnya XL ini cukup bergengsi sih dan tiap tahun makin banyak pendaftarnya. Soalnya XL beneran ngga main-main dalam menyelenggarakan program ini. Investasinya, kalau dinominalkan, katanya bisa mencapai jumlah 100 juta rupiah per orang. Hm, mantap juga. Aku tahu informasinya dari werbsite. Sebenarnya kemarin XL juga sempet ngadain Town Hall gitu di kampusku, tapi aku ngga bisa ikutan. Aku saranin kalian buat dateng Town Hall ini sih kalo acaranya ada di kampus kalian. Di sana, kalian bisa nanya-nanya langsung ke awardee dan minta banyak tips ke mereka. Berguna lah pokoknya. Tahap 1: Seleksi Administrasi Setiap program pasti ada seleksi administrasinya. Seleksi administrasi ini gampang gampang susah, sih. Di bagian awal, kamu diminta mengisi biodata dan beberapa tambahan informasi. Terus kalau ga salah, di bagian akhir, ada tiga soal esai yang harus kamu jawab. Aku ngga ngert...

Diterima di SMA Negeri 8 Yogyakarta

Hai! :D Jadi ceritanya, hari ini adalah hari terakhir pendaftaran sekolah menengah atas atau bahasa gaulnya SMA. Dari tadi pagi, gue udah siap-siap. Udah bolak balik rumahnya Deny buat mencetak formulir dan rumahnya Mesi untuk ambil formulir. Dari rumah Mesi gue dapet kabar kalau ternyata dia udah nggak mau mengikuti seleksi online untuk masuk ke SMA negeri di kota Yogyakarta. Dia memilih tetap di Bantul, di SMA 1 Bantul. Sebelumnya di Deny juga mau ikutan seleksi online, tapi nggak jadi, karena peluang masuknya kecil, katanya. Yasudah. Kembali ke rumah, masih bisa santai sampai jam sembilan. Jam sembilan, semua sudah siap, tapi mendadak Mbak suruh bikin formulir dengan pilihan sekolah yang kembali diacak. Dan kemudian bikin deh dua buah formulir, kemudian Mbak suruh bikin satu lagi dengan pilihan sekolah diacak kembali. Lalu kita berangkat, mencari tukang percetakan terdekat, kemudian Mbak kembali bilang kalau peluang masuk SMA Negeri 1 sudah tertutup. Peluang SMA Negeri 8...

Pengalaman Mengikuti Seleksi Beasiswa PPA 2018

Halo! Jadi aku kepikiran untuk menuliskan pengalaman-pengalaman aku ketika mengikuti seleksi program-program yang sempat aku ikuti. Sebenarnya ini lebih ke sharing sih, siapa tau dari temen-temen sekalian ada yang kebingungan mencari kating yang bisa diajak sharing, susah mau reach out pihak penyelenggara program, dan sebagainya. Semoga tulisanku ini ada manfaatnya, ya! Untuk yang pertama, aku mau sharing masalah Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik atau Beasiswa PPA. Beasiswa ini merupakan program dari Kemenristekdikti dan udah ada dari zaman Bapak dan Ibuku masih kuliah. I would say bahwa program ini punya persyaratan yang paling gampang, karena kamu cuman diminta mengumpulkan KRS, fotokopi kartu mahasiswa, dan beberapa hal lainnya yang istilahnya udah available lah, jadi ngga perlu repot-repot mikir. Tapi ini tergantung kampusnya sih, kebijakannya kadang beda-beda. But, karena kemudahannya itu, beasiswa ini jadi rame banget peminatnya. Setiap ada pengumuman Beasiswa PP...