Langsung ke konten utama

Tiga Bulan Pertama 2020, dan Hal yang Bisa Diambil Darinya


 
Halo.

Hari ini just another in quarantine. Nggak nyangka udah hampir tiga minggu lebih semua aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerumunan dan ketemuan sama orang ditiadakan. Gue inget kebijakan ini pertama kali turun ketika gue sedang sibuk menyusun laporan KKN, dan yang ada di benak gue saat itu adalah bingung, wkwk. Bingung gimana nanti melanjutkan penyusunan laporannya, bingung gimana nanti konsultasi skripsinya, bingung gimana ngurus sidang sama wisuda juga (sekalipun kayaknya dua yang terakhir belum akan terjadi dalam waktu dekat).

Ngga nyangka 2020 udah berjalan sampai April, yang mana artinya udah seperempat tahun terlewati. Ada beberapa hal yang menjadi catatan tersendiri bagi gue, terutama berkaitan dengan KKN dan perkarantinaan ini.

KKN beneran seakan jadi reminder bagi gue pribadi untuk bisa lebih menempatkan diri dengan baik. Perbedaan latar belakang studi kami nyatanya membawa perbedaan dalam banyak hal, misalnya dalam menyelesaikan permasalahan tertentu, dalam metode melakukan pendekatan terhadap warga, maupun dalam menjalankan program kerja kami. Nyatanya, KKN merupakan penggambaran mengenai lingkungan yang diverse dan kompleks, yang akan kami hadapi nantinya ketika sudah memasuki dunia selepas kuliah. Yah, kuliah sebenarnya sudah banyak diisi orang yang berbeda, cuman perbedaan anak di KKN beneran menjadi pengingat kalau di dunia ini ada lebih banyak lagi tipe manusia dibandingkan yang kamu temui di bangku kelas, kantin, maupun aula kampus.

Ini jadi pelajaran juga untuk bisa lebih fleksibel dan nggak kagetan dengan hal yang baru. Gue orang yang cukup memegang prinsip. Terkadang apabila menemukan sesuatu yang berlainan dengan apa yang gue yakini, butuh waktu dan proses untuk bisa menerima hal tersebut. KKN semakin menegaskan ke gue bahwa ada banyak sekali pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, dan pendekatan yang kamu ambil bisa jadi bukan yang paling efektif. Bisa jadi pendekatan yang dilakukan temanmu, yang kamu kira ngga bakalan berhasil, malah jadi pendekatan yang paling ideal untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

Selama masa mengurung diri ini, gue juga sadar beberapa nikmat yang nggak gue sadari saking ‘biasa’-nya nikmat tersebut. Nikmat untuk bisa naik motor keliling kota tanpa harus takut bakalan kenapa-napa, nikmat bisa jalan di mall, karaoke, belanja, ketemuan sama temen dengan leluasa, bahkan nikmat untuk bisa mengikuti perkuliahan di kelas yang kursinya keras dan lampunya redup. Semuanya ternyata bukan hal yang bisa dicapai kapan saja.

Semua per-Corona-an ini juga menyadarkan gue mengenai betapa lemahnya manusia. Gila ya, gimana banyak orang berpikir mereka sekuat itu, se-berkuasa itu dengan apa yang mereka miliki, tetapi ternyata bisa ambruk karena partikel yang bahkan ngga bisa keliatan dengan mata telanjang. Setelah dipikir pun, ada banyak banget hal kecil dan sering ngga kita perhatikan yang nyatanya bisa membahayakan kehidupan kita. Emang manusia harus ingat kembali, bahwa makhluk hidup yang ada di muka Bumi bukan hanya mereka, dan makhluk-makhluk ini juga berhak sejahtera.

Hal lainnya, seperti yang gue tulis di bagian awal, ialah tentang bagaimana waktu berjalan secepat itu. Awal KKN, gue sempet ngga betah karena menganggap bahwa program ini bakalan berjalan lama. Tapi, here I am, sudah menyelesaikan KKN dan laporannya. Pun gue inget gimana beratnya menjalani kuliah, terus gue liat ke belakang dan menemukan bahwa gue hampir tiba di garis finish. Tinggal satu lompatan yang harus gue lakukan, dan pendidikan S1 gue bakalan kelar. Gila ya, gimana konsep waktu yang abstrak, yang rasanya cuman kehilangan beberapa menit, mendadak menjelma menjadi jam, hari, dan minggu.

Kondisi dunia saat ini, proposal skripsi gue yang ditolak dan belum ada kabarnya lagi, terkadang juga menimbulkan ketakutan sendiri. Takut ngga bisa lulus tepat waktu, takut mengecewakan mereka yang udah rooting for me, takut ngga bisa membanggakan diri sendiri dan orang terdekat dengan selempang cum laude kebanggaan.

Ketakutan-ketakutan ini seringkali berlebihan ketika prosesnya belum gue jalani. Padahal, kalau udah dijalani, ada banyak hal yang nyatanya ngga se-menakutkan itu. Gue inget pas KKN kemarin, kami mengadakan program cek kesehatan yang terbuka untuk umum, dan banyak anak KKN yang juga ikutan buat ngecek tensi sama kadar gula darah. Gue tertarik dan mendaftarkan diri, cuman ketika tahu gula darah dicek dengan cara ditusuk jarinya, ada ketakutan yang menyelinap ke dalam diri gue (gue juga bingung kemarin mikir apaan, kek helo ngecek gula darah juga pasti pakai darah lah, masa mau pakai interview).

Salah satu alasan gue ngga mau jadi dokter adalah karena gue takut dengan darah. Makanya gue sangat menghindari film yang berlumuran darah, seperti yang genre-nya thriller. Gue ngga bisa menikmati film sejenis Final Destination, karena ya gue ujungnya cuman akan nutup mata dan nanya apa yang barusan terjadi ke temen nonton gue.

Beneran pas duduk nunggu antrian cek gula darah, gue ngga bisa ngatur ekspresi, wkwk. Pun ketika udah sampai di giliran gue, keringat dingin mulai bermunculan di dahi. Kebayang gimana kalau darahnya ngga berhenti, kebayang gimana kalau ngga keluar darahnya sampai harus kena suntik beberapa kali, dan bayangan hal ngga penting lain yang mungkin bisa saja terjadi.

Petugas kesehatan mengusapkan alcohol swab ke salah satu jari gue, menyiapkan alat cek gula darah, dan menusuk jari gue.... yang rasanya beneran kek gigitan semut. Asli, gue ngga nyangka kalau rasanya bakalan se-minor itu. Setelah itu darahnya diambil, ditaruh di alatnya, lalu ditunjukkan hasilnya. Udah. Se le sai.

Gue berjalan dari meja cek gula darah ke bagian belakang sambil tertawa ironis dalam hati. Hebat ya, terkadang ketakutan terhadap hal yang ngga atau belum kita lakukan tuh justru lebih besar dibandingkan ketika sudah menjalaninya. Otak kita sering membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk, yang bahkan mungkin kasusnya jarang sekali terjadi atau bahkan ngga pernah terjadi, tetapi kita percaya hal tersebut mungkin terjadi sama kita.

Dalam beberapa buah renungan di atas, gue jadi sadar kalau manusia tuh beneran makhluk yang sangat lemah. Bahkan dalam menghadapi hal-hal yang lebih kecil dari kita. Jangankan permasalahan Corona, hanya karena overthinking pas mau cek kesehatan aja bisa jadi permasalahan yang menakutkan. It told me to be more humble ketika berjalan, bahwa gue di dunia ngga hidup sendirian, harus bisa lebih berhati-hati dalam berbuat.

Juga menyadarkan gue betapa nggak pentingnya gue dan irrelevannya gue di dunia ini. Proposal gue yang belum jadi ngga bakalan menghambat teman gue yang udah ambil data untuk lekas menyelesaikan skripsinya. Proposal gue yang belum jadi ngga bakalan bikin Corona sungkan dan kasihan ke gue, kemudian dia undur diri dari Indonesia. Dengan atau tanpa gue, dunia bakalan terus berjalan.

Lalu kenapa gue harus menjadi makhluk yang sombong? Lalu kenapa gue masih harus jumawa ketika berjalan?

Emang benar; terkadang kita harus menghadapi gelap agar bisa tahu bagaimana cara mensyukuri terang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diterima di SMA Negeri 8 Yogyakarta

Hai! :D Jadi ceritanya, hari ini adalah hari terakhir pendaftaran sekolah menengah atas atau bahasa gaulnya SMA. Dari tadi pagi, gue udah siap-siap. Udah bolak balik rumahnya Deny buat mencetak formulir dan rumahnya Mesi untuk ambil formulir. Dari rumah Mesi gue dapet kabar kalau ternyata dia udah nggak mau mengikuti seleksi online untuk masuk ke SMA negeri di kota Yogyakarta. Dia memilih tetap di Bantul, di SMA 1 Bantul. Sebelumnya di Deny juga mau ikutan seleksi online, tapi nggak jadi, karena peluang masuknya kecil, katanya. Yasudah. Kembali ke rumah, masih bisa santai sampai jam sembilan. Jam sembilan, semua sudah siap, tapi mendadak Mbak suruh bikin formulir dengan pilihan sekolah yang kembali diacak. Dan kemudian bikin deh dua buah formulir, kemudian Mbak suruh bikin satu lagi dengan pilihan sekolah diacak kembali. Lalu kita berangkat, mencari tukang percetakan terdekat, kemudian Mbak kembali bilang kalau peluang masuk SMA Negeri 1 sudah tertutup. Peluang SMA Negeri 8...

Pengalaman Mengikuti Seleksi Beasiswa PPA 2018

Halo! Jadi aku kepikiran untuk menuliskan pengalaman-pengalaman aku ketika mengikuti seleksi program-program yang sempat aku ikuti. Sebenarnya ini lebih ke sharing sih, siapa tau dari temen-temen sekalian ada yang kebingungan mencari kating yang bisa diajak sharing, susah mau reach out pihak penyelenggara program, dan sebagainya. Semoga tulisanku ini ada manfaatnya, ya! Untuk yang pertama, aku mau sharing masalah Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik atau Beasiswa PPA. Beasiswa ini merupakan program dari Kemenristekdikti dan udah ada dari zaman Bapak dan Ibuku masih kuliah. I would say bahwa program ini punya persyaratan yang paling gampang, karena kamu cuman diminta mengumpulkan KRS, fotokopi kartu mahasiswa, dan beberapa hal lainnya yang istilahnya udah available lah, jadi ngga perlu repot-repot mikir. Tapi ini tergantung kampusnya sih, kebijakannya kadang beda-beda. But, karena kemudahannya itu, beasiswa ini jadi rame banget peminatnya. Setiap ada pengumuman Beasiswa PP...

Pengalaman Mengikuti Seleksi XL Future Leaders Batch 7

A Lo Ha! Sekarang aku mau sharing pengalaman ikutan seleksi XL Future Leaders batch 7, nih. Programnya XL ini cukup bergengsi sih dan tiap tahun makin banyak pendaftarnya. Soalnya XL beneran ngga main-main dalam menyelenggarakan program ini. Investasinya, kalau dinominalkan, katanya bisa mencapai jumlah 100 juta rupiah per orang. Hm, mantap juga. Aku tahu informasinya dari werbsite. Sebenarnya kemarin XL juga sempet ngadain Town Hall gitu di kampusku, tapi aku ngga bisa ikutan. Aku saranin kalian buat dateng Town Hall ini sih kalo acaranya ada di kampus kalian. Di sana, kalian bisa nanya-nanya langsung ke awardee dan minta banyak tips ke mereka. Berguna lah pokoknya. Tahap 1: Seleksi Administrasi Setiap program pasti ada seleksi administrasinya. Seleksi administrasi ini gampang gampang susah, sih. Di bagian awal, kamu diminta mengisi biodata dan beberapa tambahan informasi. Terus kalau ga salah, di bagian akhir, ada tiga soal esai yang harus kamu jawab. Aku ngga ngert...